Senin, 27 Januari 2014

berkeluh dalam semesta


semesta mendua dalam syarat tampa makna

mulutku menganga dengan dua tangan terkepal jemari ku mengeras mau mencakar
tapi kadang
kadang kepala mengadah dan tertunduk ke kubah langit
sementara tubuh krempeng penuh nanah dlam sayat ribuan luka
lidah kaku menjulur keluar dan menjilat birahi  pesona ironi 

bau busuknya menyengat penduduk langit semestapun mengejekkuse akan dosa ini melebihi dosa iblis dalam lakon adam dan hawa..


BODOOOOOH....
dalam pilar pilar kaki langit
ku terjebak dalam ruang di balik kelambu kehinaan
dengan belengu kosong di ujung hidung ku
memberi rasa tmpa pemaknaan...

bahruku menjerit dengan sumpah serapahmengutuk langit yang terkadang menduatampa belas kasih menimpu dalam lembaran lembaran di benak sucisang utusansementara aku di balik ruang kosong...terdiamdengan syarat...tapi buta makna...


kawan.....

 semesta tu mendua
dalam jutaan isyarat
tapi menipu dalam satu makna.....

dalam pilar pilar kaki langit
ku terjebak dalam ruang di balik kelambu kehinaan
dengan belengu kosong di ujung hidung ku
memberi rasa tmpa pemaknaan...

bahruku menjerit dengan sumpah serapah
mengutuk langit yang terkadang mendua
tampa belas kasih menimpu dalam lembaran lembaran di benak suci
sang utusan


sementara aku di balik ruang kosong...terdiam
dengan syarat...
tapi buta makna...


kawan semesta tu menduadalam jutaan isyarat tapi menipu dalam satu makna.....